Nilai TKA 'Kritis', Buah Pahit Kebijakan Naik Kelas Otomatis!

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (terbaru), belum lama ini menyoroti hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026. Terbaru, Prof Abdul Mu'ti mengungkap bahwa hasil TKA pada jenjang SMP 'anjlok'. Tidak jauh berbeda dari hasil TKA jenjang SMA pada tahun 2025.

Melihat data yang ada, nilai TKA SMA tahun 2025 dapat dikatakan jauh dari kata ideal. Pasalnya, sebagaimana dimuat dalam laman Jawapos, nilai rata-rata mata pelajaran Matematika adalah 36,10 dari nilai 100. Adapun nilai rata-rata pelajaran Bahasa Indonesia sedikit lebih banyak dari Matematika yakni 55,38.

Mengutip Kompas.com, Abdul Mu'ti menyebut bahwa hasil TKA yang kurang memuaskan menjadi indikasi bahwa tingkat literasi dan numerasi peserta didik masih menjadi masalah yang harus diselesaikan. Terutama dalam numerasi -matematika-, Abdul Mu'ti memandang bahwa tidak seharusnya siswa yang masih kecil diajarkan numerasi dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

Penulis meyakini bahwa pada dasarnya, rendahnya tingkat literasi dan numerasi terjadi tidak hanya karena satu alasan. Meskipun demikian, dalam tulisan ini penulis akan mengungkap satu hal yang hemat penulis memiliki pengaruh cukup besar dalam hal rendahnya tingkat literasi dan numerasi sebagaimana tengah terjadi. Satu hal tersebut adalah kebijakan 'naik kelas otomotis' sebagai salah satu implikasi dari kurikulum merdeka.

Naik kelas otomatis pada dasarnya memiliki tujuan yang baik, yakni supaya peserta didik tidak 'stress' dan minder ketika tidak naik kelas. Secara sekilas hal ini terdengar berperikemanusiaan. Proses belajar peserta didik lebih dihargai. Dalam pembelajaran, yang dinilai dan dihargai tidak hanya hasil belajar, tetapi juga proses belajarnya. Dalam praktiknya, asal siswa mau masuk kelas dan belajar, otomatis naik kelas, tanpa perduli apakah siswa telah menguasai materi atau belum. Diakui ataupun tidak, hemat penulis hal ini adalah kebijakan ngawur yang dibangun diatas logika yang cacat!.

Kebijakan naik kelas otomatis berbanding lurus dengan menurunnya motivasi intrinsik siswa untuk belajar. Mengutip teori self-determintion motivasi intrinsik, termasuk motivasi belajar akan turun ketika tidak ada tantangan serta tujuan yang jelas. Dalam hal ini sesuai dengan yang terjadi pada diri siswa. Bagaimana mungkin siswa akan termotivasi untuk belajar, sedangkan apapun hasilnya serta berapapun nilainya dia akan naik kelas? Bagaimana bisa guru mengajar anak manusia yang tidak memiliki motivasi pada dirinya?

Kebijakan naik kelas otomatis tidak lain adalah kebijakan yang menghilangkan esensi dari sebuah pembelajaran. Dengan kebijakan ini, pembelajaran seolah menjadi tanpa tujuan, hal yang pada hakikatnya menjadi 'ruh' dari pembelajaran itu sendiri. Dengan kebijakan naik kelas otomatis, sekilas tidak ada tujuan pembelajaran selain siswa senang, tidak tertekan, dan mau masuk sekolah -meskipun tidak belajar-.

Alih-alih menghargai proses, kebijakan 'ngawur' ini pada dasarnya adalah sesuatu yang 'menghianati' esensi dari sebuah proses. Di sisi lain, kebijakan ini hakikatnya 'membunuh' peserta didik. Dengan kebijakan ini, siswa didorong untuk 'melompati' sebuah proses.

Analogi dari kebijakan ini sebagaimana seorang yang belajar berenang. Dalam hal ini, seorang yang belum 'mampu' berenang di kolam dangkal, dibiarkan untuk berenang di tengah ganasnya lautan yang dalam. Lantas, apalagi kata yang lebih pantas digunakan untuk menjelaskan hal ini selain 'pembunuhan?

Demikian halnya dengan praktik nyata dari kebijakan ini. Siswa yang belum mampu membaca dipaksa untuk menghafal. Adapun yang masih buta bilangan, dibiarkan 'pusing' mengerjakan operasi bilangan. Singkatnya, siswa dipaksa belajar sesuatu yang dasarnya-pun belum sepenuhnya ia kuasai.

Pada akhirnya, Nilai TKA yang anjlok bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Rendahnya tingkat literasi dan numerasi bukan pula sebuah hal yang 'ujuk-ujuk' terjadi. Keduanya adalah salah satu hasil dari kebijakan yang diambil berdasarkan cacat logika, dengan dalih menghargai sebuah 'proses'. 

Yang paling akhir, penulis ajukan satu pertanyaan sebagai refleksi. 

"Kejamkah? Atau bentuk kasih sayang? Ketika Sorang ibu mencegah anaknya berjalan karena buta dan tidak mempunyai tongkat. "


Komentar

Postingan Populer