Galau Kacau Balau









Di pagi dengan secercah caya

Jiwaku membara menggelora, hatiku teriris menangis

Tapi denganku yang tiada ada daya

Ku hanya menatap rumahku miris

 

Dengan senyum tiada manis

Menatap sinis kepada masinis

Tersenyum menatap miris

Cukup gatal dan geli meringis

Tidak sampai menangis

 

Aku kasihan melihat harimau kecilku

Raung meraung terdengar darinya di telingaku

Bukan aum yang yang getarkan telingaku

Dipaksa tuan kecil prabu tuk menyelam lautan

Sampai ia lumpuh berlari di daratan

Tiada mampu berburu di belantara hutan

 

Aku kasihan dengar nasib beruang saljuku

Dipinta bertapa di puncak kawah merapi

Tak lupa dengan gagah emas garudaku

Yang dijerat kurung yang berteman sepi

 

Aku heran dengan ikan sura

Dengan nya yang tiada di samudera

Tapi nyata ada di padang sahara

 

Jauh di matador arena adalah mahesa

Dia lupa sawah dia lupa ladangku

Walau ku tahu dia tiada bersuka rasa

Sedang banteng menginjak sawahku

 

Sang Maung

hanya bisa meraung

Sang Garuda

hanya bisa mengelus dada

 

Singa tiada berdaya

Hanya bisa menganga pinga

Hening menunggu harum kenanga

Sedang si Baya

Ia terdiam tiada berdaya

Hanya bisa berkata iya

 

Dengan jernih kacamata realita

Semua ku lihat adalah nyata

Di bawah atap rumahku

Di taman bungaku

 

Wahai yang muliah bersyarat

Jangan kau kacau dengan kungkung syariat

Selami dulu bening samudra hakikat

Dengan lurus jalan tharekat

Sebelum kau pintal tali syariat

Jangan kau lupakan hakikat

Dengan belenggu syariat